A Brief Description Of Borobudur Temple

guys, mau posting bentar ni tentang Keunikan Candi Borobudur😀
Let’s see it !
Candi Borobudur merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang terletak di desa Mungkid ± 15 km di sebelah selatan Gunung Tidar. Tempat Candi Borobudur berdiri dikelilingi oleh gunung dan pegunungan. Di sebelah timur dipagari oleh Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Di sebelah barat laut oleh Gunung Sumbing dan Sidoro. Sementara di bagian utara dan selatan dipagari oleh rangkaian Gunung Tidar dan Pegunungan Menoreh. Dalam kertas karya yang berjudul “ A BRIEF DESCRIPTION OF BOROBUDUR TEMPLE” penulis memaparkan bangunan candi Borobudur yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Adapun keunikan candi Borobudur tersebut adalah dalam hal bentuk dan materi bangunannya. Dataran tinggi yang menjadi halaman candi terletak 15 meter lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Sedangkan puncak candi menjulang 19 meter di atas halaman candi. Bentuk candi Borobudur seperti limas berundak. Terdiri atas sepuluh tingkat, semakin keatas semakin kecil ukurannya. Tingkat 1 sampai 6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7 sampai 10 berbentuk bundar. Pada puncak diberi mahkota sebuah stupa besar. Candi Borobudur dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah, dan atas. Bagian bawah menjadi kaki bangunan , berdenah bujur sangkar dengan tinggi 4 meter. Bagian bawah dipertebal dengan tembok setinggi 1,5 meter dan tebal 3 meter. Selain itu, relief-relief yang terdapat pada candi Borobudur apabila dibentangkan dalam satu garis lurus dapat menjadi pameran lukisan terpanjang di dunia karena panjangnya tidak kurang dari 3 kilometer. Jadi dapat kita bayangkan bagaimana kemegahan dan keunikan candi Borobudur tersebut serta bagaimana cara nenek moyang kita dahulu membangunnya.

selain itu kita juga dapat melihat keunikan nya di bagian Patung dan Stupa nya .
check it out😀

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa patung dan stupa yang terdapat di candi ini merupakan simbolisasi tentang suatu ajaran yang diaktualisasikan dalam bentuk pahatan/bentukan/ukiran yang tipenya “mungkin” beraliran dari Mahayana (uraian detil ada di  Sejarah Borobudur), akan tetapi menurut beberapa para ahli yang lain aliran yang dianut pada masa itu adalah adhi budha (awal ajaran budha). Konsep ini mengacu dari implementasi konsep Budha tertua yang direfleksikan dalam bentuk mudra lima arah mata angin yang disebut Dhayani Budha, dan diaktualisasikan dalam pahatan patung budha Aksobhya, Amoghasiddhi, Amitaba, Ratnasambhawa dan Wairocana. Faktor lain yang memperkuat hipotesis ini adalah adanya aktualisasi latar dan halaman dalam tiga tipe berundak,  hal itu menjelaskan tentang definisi tiga alam, sampai pembuatan sudut lengkung tipikal stupanya mengikuti bentuk dari alur sinar matahari menyinari khatulistiwa, yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah ilmu pisikologi pada aliran yang pernah eksis di wilayah kawi puncak (Sutanto, 2005).

Pembagian posisi dan letak patung Budha yang terdapat di candi ini selengkapnya adalah

  • Tingkat Rupadhatu terdapat 432 arca dengan ukuran semakin ke atas semakin kecil dan diletakkan pada relung, dengan perincian; teras I sebanyak  104 arca, teras II sebanyak 104 arca, teras III sebanyak 88 arca, teras IV sebanyak 72 arca, dan teras V sebanyak 64 arca.
  • Tingkat Arupadhatu terdapat 72 arca dengan ukuran yang sama dan diletakkan di dalam stupa, dengan perincian; teras VI sebanyak 32 arca, teras VII sebanyak 24 arca, dan teras VIII sebanyak 16 arca.

Secara sepintas seluruh patung Budha tersebut serupa, tetapi apabila diamati secara lebih detil, maka akan nampak secara jelas perbedaannya, yakni pada posisi atau sikap tangannya. Sikap tangan inilah yang menjadi ciri khas pengelompokkan setiap patung Budha di candi ini, ciri ini dikenal dengan istilah Mudra arah mata angin, yang disebut dengan Dhayani Budha.

  • Mata Angin Utara; Patung yang menghadap arah mata angin ke utara dinamakan Dhayani Budha Amoghasidi, dengan nama mudra Abhaya-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri terbuka dan  menengadah pangkuan, sedang tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap kemuka.  Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang berada dalam tahapan menenangkan diri.
  • Mata Angin Timur; Patung yang menghadap arah mata angin ke timur dinamakan Dhayani Budha Aksobhya, dengan nama mudra Bhumispara-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri menengadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut sebelah kanan dengan telapak menghadap ke dalam/menelungkup dan jari menunjuk ke bawah.  Sikap ini melambangkan saat Budha memanggil Dewi Bumi, sebagai saksi ketika beliau menangkis semua serangan iblis dan roh jahat.
  • Mata Angin Selatan; Patung yang menghadap arah mata angin ke timur dinamakan Dhayani Budha Ratnasambhawa, dengan nama mudra Wara-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah tangan kiri terbuka dan menengadah di atas pangkuan, sedang tangan kanan menempel pada lutut kanan menengadah keatas, dan jari-jari menunjuk ke atas. Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang memberikan amal dan memberi anugrah.
  • Mata Angin Barat; Patung yang menghadap arah mata angin ke barat dinamakan Dhayani Budha Amithaba, dengan nama mudra Dhayana-mudra. Sikap tangan dari mudra ini adalah kedua tangan diletakkan dipangkuan, yang kanan diatas yang kiri, dengan telapak kanan menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu.  Sikap ini melambangkan kondisi manusia yang sedang mengheningkan cipta dan bersemedi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: